Jumat, 11 Mei 2012

SEJARAH BENDERA MERAH PUTIH



Bila kita melihat deretan bendera yang dikibarkan dari berpuluh bangsa di atas tiang, maka terlintas di hati kita bahwa masing-masing warna atau gambar yang terdapat di dalamnya mengandung arti, nilai dan kepribadian tersendiri, sesuai dengan riwayat sejarah bangsa itu masing-masing. Demikian halnya dengan Sang Merah Putih bagi bangsa Indonesia, warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dan dibuat secara tiba-tiba, melainkan melalui proses sejarah yang sama lamanya dengan sejarah perkembangan bangsa Indonesia.(sejarah bangsa Indonesia)


1.    Menurut sejarah, bangsa Indonesia memesuki wilayah Nusantara ini ketika terjadi perpindahan orang-orang Austronesia sekitar 6000 tahun lalu datang ke Indonesia Timur dan Barat melalui tanah semenanjung dan Philipina. Pada zaman itu manusia mempunyai cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya Candra, Aditya berarti matahari dan candra berarti bulan. Penghormatan dan pemujaan tidak saja di kawasan Nusantara namun juga di seluruh kepulauan Austronesia, di samudera Hindia dan Pasifik.
Sekitar 4000 tahun yang lalu terjadi perpindahan kedua yaitu masuknya orang Indonesia kuno dari Asia Tenggara dan berbaurlah dengan pendatang yang terlebih dahulu masuk ke Nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan keturunan yang sekarang kita kenal sebagai bangsa Indonesia.
Pada Zaman itu ada kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup yaitu Getah-Getih. Getah-Getih yang menjjiwai segala apa yang hidup sebagai sumbernya berwarna merah dan putih. Getah tumbuh-tumbuhan berwarna putih dan Getih (bahasa Jawa/Sunda) berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan hidup bagi tumbuh-tumbuhan, manusia dan hewan. Demikian menurut kepercayaan yang terdapat di kepulauan Austronesia dan Asia Tenggara. Dari kepercayaan ini maka warna merah dan putih menjadi warna keagungan, warna pujaan.

2.    Pada permulaan tahun Masehi selama dua abad lamanya rakyat di kepulauan Nusantara ini mempunyai kepandaian membuat ukir-ukiran atau pahatan dari kayu, batu dan lain sebagainya, yang kemudian ditambah dengan kepandaian yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Dong Song dalam membuat alat-alat dari logam terutama dari perunggu dan besi. Salah satu hasil yang terkenal ialah pembuatan genderang besar dari perunggu yang disebut nekara dan tersebar hampir di seluruh Nusantara. Di pulau bali genderang ini disekut nekara bulan pajeng yang dalam pura. Pada nekara tersebut diantaranya terdapat lukisan orang menari dengan hiasan bendera dan umbul-umbul dari bulu burung. Demikian juga di gunung Kidul sebelah selatan Yogyakarta terdapat kuburan berupa waruga (peti mati dari batu) dengan lukisan bendera merah putih berkibar di belakang seorang perwira menunggang kerbau, seperti yang terdapat di kaki gunung Dompu.
Kedua bendera tersebut diperkirakan usianya lebuh tua dari zaman perunggu. Pada petilasan waruga di dalamnya terdapat manik-manik dari tanah berwarna merah dan putih. Pada petilasan tugu di Jawa Barat dari raja Purnawarman yang bertahta di kerajaan Tarumanegara yang waktu itu berkembang agama hindu, terdapat sebuah lukisan yang menceritakan kebesaran raja dengan kalimat-kalimat yang menyebutkan “dwaja” untuk pertama kali dikenal di Nusantara. Adapun arti “dwaja” yang berasal dari bahasa sansekerta ialah tanda, lambang, bendera atau pataka seperti juga halnya umbul-umbul, tunggul dan lain sebagainya yang terdapat di kaki candi Borobudur.

3.    Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan, di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah. Baru abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Nusantara yaitu kerajaan Sriwijaya yang berlangsung sampai abad XII. Salah satu peninggalannya ialah candi Borobudur, dibangun pada tahun 824 M dan pada salah satu dindingnya terdapat tulisan Pataka di atas lukisan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar. Kata dwaja atau pataka sangat lazim dipergunakan dalam kitab Jawa kuno atau kitab Ramayana. Gambar pataka atau bendera yang terdapat di candi Borobudur, oleh seorang pelukis Jerman dilukiskan dengan warna merah putih. Pada candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman (kera berbulu putih) terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api). Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah putih.
Prabu Erlangga, digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu burung Garuda yang juga dikenal sebagai burung merah putih. Demikian juga pada tahun 898 sampai 910 Raja Balitung yang berkuasa untuk pertama kalinya menyebut dirinya dengan gelar Garuda Muka. Maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda telah mendapat tempat di hati rakyat Indonesia.

4.    Kerajaan Singasari yang berdiri setelah kerajaan Kediri dari tahun 1222 sampai 1292, mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dari Kediri saat melakukan pemberontakan melawan kerajaan Singasari di bawah tampuk Raja Kertanegara sudah menggunakan bendera merah putih, tepatnya sekitar tahun 1292. Pada saat itu tentara Singasari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu atau Pamelayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji-panji berwarna merah putih dengan gamelan kea rah selatan Gunung Kawi. Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan pasukan Singasari, padahal pasukan Singasari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Kejadian itu tertulis dalam suatu piagam yang dikenal dengan nama Piagam Butak. Butak adalah nama Gunung tempat ditemukannya piagam tersebut, terletak di sebelah selatan kota Majakerta. Pasukan singasari dipimpin oleh R.Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara). R.Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di desa Tarik, 12 km sebelah timur kota Majakerta.
Berkibarlah warna merah putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian juga dikenal sebagai Piagam Merah Putih, namun masih terdapat salinannya. Pada buku Paraton ditulis tentang runtuhnya Singasari serta mulai dibukanya Kerajaan Majapahit dan pada zaman itu pula terjadinya perpaduan antara Ciwaisme dan Budhisme.

5.    Demikian perkembangan selanjutnya pada masa jayanya Majapahit, menunjukkan bahwa putrid Dara Jingga dan Dara Perak yang dibawa oleh tentara Pamelayu juga mengandung unsur warna merah dan putih, (jingga = merah, perak = putih). Tempat Raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya disebut juga keraton merah putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata warna merah dan lainnya diplester warna putih. Mpu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah putih pada upacara kebesaran raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar-pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi warna merah putih, seperti yang dikendarai oleh putri Raja Lasem. Kereta putrid Daha digambari buah Maja warna merah, atas dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan.
Salah satu peninggalan Majapahit ialah sebuah cincin merah putih yang menurut ceritanya sebagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram. Sebagai kelanjutan, dalam keraton Solo terdapat panji-panji peniggalan Kyai Ageng Tarub turunan  Raja Brawijaya yaitu raja Majapahit terakhir. Panji-panji tersebut berdasar kain putih dan bertuliskan Arab Jawa yang digaris atasnya memakai warna merah. Hasil penyelidikan panitia kepujanggaan Yogyakarta berkesimpulan antara lain nama bendera itu adalah Gula Kelapa, dilihat dari warna merah dan putih. Gula, warna merah, artinya berani, dan kelapa, warna putih, artinya suci.

6.    Di Sumatera Barat menurut sebuah Tambo yang telah turun temurun hingga sekarang ini masih sering dikibarkan bendera dengan menggunakan tiga warna. Yaitu hitam mewakili golongan penghulu atau penjaga adat. Kuning mewakili golongan alim ulama’. Sedangkan merah mewakili golongan hulubalang. Ketiga warna itu sebenarnya merupakan peninggalan zaman kerajaan minang pada abad XIV yaitu Raja Adityawarman. Juga di Sulawesi di daerah Bone dan Sopeng dahulu dikenal Waromporang yang berwarna putih yang disertai umbul-umbul berwarna merah di kiri dan kanannya. Bendera tersebut tidak saja berkibar di daratan, tetapi juga di samudera, di atas tiang armada Bugis yang terkenal.
Bagi masyarakat Batak terdapat kebiasaan memakai ulos semacam kain yang khusus ditenun dengan motif tersendiri. Nenek moyang orang batak menganggap ulos sebagai lambang yang akan mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohani serta membawa arti yang khusus bagi yang menggunakannya. Dalam aliran animisme Batak dikenal kepercayaan monoteisme yang bersifat primitif, bahwa kosmos merupakan kesatuan tritunggal, yaitu Benua Atas (benua ginjang) yang dilambangkan warna merah danputih, Benua Bawah (benua toru) yang dilambangkan warna hitam. Ketiga warna itu banyak kita jumpai pada barang-barang yang suci atau pada hiasan-hiasan rumah adat. Demikian pula pada ulos terdapat tiga warna dasar yang tiga tadi yaitu warna hitam sebagai warna dasar sedangkan warna merah dan putih sebagai hiasan atau motifnya.
Di beberapa daerah Nusantara ini terdapat kebiasaan yang hampir sama, yaitu kebiasaan memakai selendang sebagai pelengkap pakaian kaum wanita. Ada kalanya pemakaian selendang tersebut ditentukan pemakaiannya pada setiap upacara-upacara, dan sebagian besar dari motif-motifnya memakai warna merah dan putih.

7.    Ketika terjadi perang Diponegoro pada tahun 1825-1830, di tengah-tengah pasukan Diponegoro yang beribu-ribu juga terdapat kibaran bendera merah putih, demikian juga di lereng-lereng gunung dan desa-desa yang dikuasai pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera merah putih.
Ibarat gelombang samudera yang tak kunjung reda, perjuangan rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra-putra Indonesia yang dipimpin oleh Sultan Agung dari Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanuddin, Sisingamangaraja. Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pattimura, Diponegoro dan banyak lagi para putra Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan terpadamkan. Hambatan dan rintangan silih berganti, tiada suatu kekuatan pun yang dapat menghambat berkibarnya bendera bangsa Indonesia di bumi Nusantara ini.
Pada abad XX perjuangan rakyat Indonesia makin terarah dan menyadari akan adanya persatuan dan kesatuan perjuangan menentang kekuatan asing, kesadaran berbangsa dan bernegara mulai menyatu dengan timbulnya gerakan kebangsaan Budi Utomo pada tahun 1908 sebagai salah satu tonggak sejarah. Kemudian pada tahun 1922 di Yogyakarta berdiri sebuah perguruan nasional Taman Siswa di bawah pimpinan Suwardi Suryaningrat yang kemudian dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Perguruan Taman Siswa pada waktu itu telah mengibarkan bendera merah putih dengan latar dasar warna hijau yang tercantum dalam salah satu lagu antara lain : “dari barat sampai ke timur, pulau-pulau Indonesia, nama kamu sangatlah masyhur dilingkungi merah putih”. Itulah makna bendera yang dikibarkan perguruan Taman Siswa.
Ketika terjadi perang aceh, pejuang-pejuang aceh telah menggunakan bendera perang umbul-umbul dengan warna merah putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari dan bintang serta beberapa ayat suci Alqur-an.
Para mahasiswa yang teegabung dalam Perhimpunan Indonesia yang berkedudukan di Negara Belanda pada tahun 1922 juga telah mengibarkan bendera merah putih yang ditengahnya bergambar kepala kerbau, pada kulit buku yang berjudul Indonesia Merdeka. Buku ini membawa pengaruh bangkitnya semangat kebangsaan untuk mencapai Indonesia merdeka.
Demikian seterusnya pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia di bawah pimpinan Ir.Soekarno yang bertujuan mencapai kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Partai tersebut mengibarkan bendera merah putih yang ditengahnya bergambar banteng.
Kongres pemuda pada tahun 1928 merupakan detik yang sangat bersejarah dengan lahirnya “Sumpah Pemuda”. Satu keputusan sejarah yang sangat berani dan tepat, karena kekuatan penjajah pada saat itu selalu menindas segala kegiatan yang bersifat kebangsaan. Sumpah Pemuda tersebut tidak lain adalah tekad untuk bersatu, karena persatuan Indonesia merupakan pendorong ke arah tercapainya kemerdekaan. Semangat persatuan tergambar jelas dalam “Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia” yang berbunyi :

Pertama         :

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG  SATOE, TANAH INDONESIA

Kedua            :

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga             :

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Pada kongres tersebut untuk pertama kalinya digunakan hiasan merah putih tanpa gambar atau tulisan, sebagai warna bendera kebangsaan, dan untuk pertama kalinya pula diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia raya.
Pada saat kongres pemuda berlangsung, suasana merah putih telah berkobar di dada peserta, hal ini dibuktikan dengan panitia kongres menggunakan “kokarde” (semacam tanda panitia) dengan warna merah putih yang di pasang di dada kiri. Demikian juga pada dada anggota padvinder atau pandu yang ikut aktif dalam kongres menggunakan dasi berwarna merah putih.
Perlu disadari bahwa Polisi Belanda (PID) termasuk tokohnya Van Der Plass sangat ketat memperhatikan segala gerak-gerik peserta kongres, sehingga panitia sangat berhati-hati serta membatasi diri demi kelangsungan kongres. Suasana merah putih yang diciptakan para pandu menyebabkan pemerintah penjajah melarang dilangsungkanya pawai pandu, khawatir pawai bisa berubah menjadi semacam penggalangan kekuatan massa.
Pada masa kedudukan jepang di Indonesia, pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilarang, karena penjajah mengetahui pasti hal tersebut dapat membangkitkan semangat kebangsaan untuk merdeka. Barulah pada tahun 1944 lagu Indonesia Raya dan bendera Merah Putih diizinkan berkibar lagi setelah kedudukan Jepang terdesak.  Bahkan pada tahun itu juga dibentuk panitia yang bertugas untuk menyelidiki lagu kebangsaan serta arti dan ukuran bendera merah putih.
Detik-detik yang sangat bersejarah adalah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah pembacaan teks proklamasi dikibarkanlah untuk pertama kalinya bendera merah putih yang tidak saja sebagai bendera kebangsaan, tetapi juga sebagai bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemudian disasahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 dalam UUD 1945 pasal 35 dalam siding Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang pertama. Bendera yang berkibar pertama kali di Pegangsaan Timur 56, kemudian kita kenal dengan nama Sang Saka Merah Putih ditetapkan sebagai bendera pusaka.
Pada tanggal 29 September 1950 berkibarlah Sang Merah Putih di depan gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Badan Dunia.
Sang Merah Putih oleh bangsa Indonesia dijadikan bendera kebangsaan dan bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Warna merah putih telah ribuan tahun menjadi warna pujaan yang sangat dimuliakan, sesuai dengan kepercayaan yang dianut pada waktu itu dan telah mendarah daging.
Bendera Indonesia ada persamaannya dengan bendera Kerajaan Monako, yaitu sebuah negara kecil di bagian selatan Prancis, namun masih terdapat perbedaannya. Bendera Kerajaan Monako ditengahnya berlambang kerajaan dengan ukuran perbandingan 2,5:3. Sedangkan bendera Indonesia telah ditetapkan dalam PP No. 40 tahun 1958, berukuran yang terbesar dengan perbandingan 2:3 (lebar 2 meter dan panjang 3 meter). Kerajaan Monako menggunakan bendera bukanlah sebagai lambang tertinggi, sebab sebuah negara kerajaan, sedangkan bagi Indonesia bendera Merah Putih mrupakan lambang tertinggi. Kemudian Kerajaan Monako bukan anggota PBB. Ada lagi negara yang menggunakan bendera merah dan putih yaitu Polandia, tetapi letak warnanya berbeda. Bendera Polandia adalah Putih Merah.

8.    Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia ini mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya?. Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan dalam bentuk kulit atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh. Berdasarkan penelitian terhadap fosil-fosil benda kuno ada petunjuk bahwa bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat sebagai daftar. Demikian juga pada bangsa Cina di zaman kaisar Chou tahun 1122 sebelum Masehi.
Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah. Hal itu diperkuat juga dengan banyaknya istilah bendera yang terdapat dalam kitab Injil. Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah simbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah takluknya. Ukiran totem yang terdapat pada puncak tongkat atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungannya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera terbawa sampai sekarang ini.
Pada abad XIX tentara Napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua bendera mempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi. Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadira raja, opsir atau pejabat tinggi negara. Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang di puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga dengan perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.
Ada lagi yang dinamakan labarum, ialah kain sutera bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai raja Bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera gunfano yang dipakai bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak dan dari sinilah lahir bendera Perancis yang bernama “Fonfano”.
Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga dan burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalahdalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung Garuda, bangsa Cina menggunakan bendera yang bersulam gambar ular naga.
Tata cara pengibaran dan pemasangan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai, rupanya pada saat itu sudah dikenal. Dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa negara di dunia ini.

0 komentar

Poskan Komentar